Tampilkan postingan dengan label artikel pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel pendidikan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 27 Februari 2013
Slide_ Pengembangan Kurikulum 2013
Label:
artikel pendidikan
Struktur Kurikulum 2013
Dalam teori kurikulum (Anita Lie, 2012) keberhasilan suatu kurikulum
merupakan proses panjang, mulai dari kristalisasi berbagai gagasan dan
konsep ideal tentang pendidikan, perumusan desain kurikulum, persiapan
pendidik dan tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana, tata
kelola pelaksanaan kurikulum --termasuk pembelajaran-- dan penilaian
pembelajaran dan kurikulum.
Struktur kurikulum dalam hal perumusan desain kurikulum, menjadi amat
penting. Karena begitu struktur yang disiapkan tidak mengarah sekaligus
menopang pada apa yang ingin dicapai dalam kurikulum, maka bisa
dipastikan implementasinya pun akan kedodoran.
Pada titik inilah, maka penyampaian struktur kurikulum dalam uji publik ini menjadi penting. Tabel 1 menunjukkan dasar pemikiran perancangan struktur kurikulum SD, minimal ada sebelas item. Sementara dalam rancangan struktur kurikulum SD ada tiga alternatif yang di mesti kita berikan masukan.
Di jenjang SMP usulan rancangan struktur kurikulum diperlihatkan pada
tabel 2. Bagaimana dengan jenjang SMA/SMK? Bisa diturunkan dari standar
kompetensi lulusan (SKL) yang sudah ditentukan, dan juga perlu
diberikan masukan.
Tiga Persiapan untuk Implementasi Kurikulum 2013
ADA pertanyaan yang muncul bernada khawatir, dalam uji publik
kurikulum 2013? Persiapan apa yang dilakukan Kemdikbud untuk kurikulum
2013? Apakah sedemikian mendesaknya, sehingga tahun pelajaran 2013
mendatang, kurikulum itu sudah harus diterapkan. Menjawab kekhawatiran
itu, sedikitnya ada tiga persiapan yang sudah masuk agenda Kementerian
untuk implementasi kurikulum 2013. Pertama, berkait dengan buku pegangan
dan buku murid. Ini penting, jika kurikulum mengalami perbaikan,
sementara bukunya tetap, maka bisa jadi kurikulum hanya sebagai “macan
kertas”.
Pemerintah bertekad untuk menyiapkan buku induk untuk pegangan guru
dan murid, yang tentu saja dua buku itu berbeda konten satu dengan
lainnya.
Kedua, pelatihan guru. Karena implementasi kurikulum dilakukan secara
bertahap, maka pelatihan kepada guru pun dilakukan bertahap. Jika
implementasi dimulai untuk kelas satu, empat di jenjang SD dan kelas
tujuh, di SMP, serta kelas sepuluh di SMA/SMK, tentu guru yang diikutkan
dalam pelatihan pun, berkisar antara 400 sampai 500 ribuan.
Ketiga, tata kelola. Kementerian sudah pula mnemikirkan terhadap tata
kelola di tingkat satuan pendidikan. Karena tata kelola dengan
kurikulum 2013 pun akan berubah. Sebagai misal, administrasi buku
raport. Tentu karena empat standar dalam kurikulum 2013 mengalami
perubahan, maka buku raport pun harus berubah.
Intinya jangan sekali-kali persoalan implementasi kurikulum
dihadapkan pada stigma persoalan yang kemungkinan akan menjerat kita
untuk tidak mau melakukan perubahan. Padahal kita sepakat, perubahan itu
sesuatu yang niscaya harus dihadapi mana kala kita ingin terus maju dan
berkembang. Bukankah melalui perubahan kurikulum ini sesungguhnya kita
ingin membeli masa depan anak didik kita dengan harga sekarang.
Label:
artikel pendidikan
Menyongsong Penerapan Kurikulum 2013
Oleh: Ibnu Hamad
(Kepala Pusat Informasi Dan Hubungan Masyarakat Kemdiknas)
Perbincangan
Kurikulum 2013 memasuki babak baru, yaitu ikhwal implementasi. Dalam
berbagai kesempatan, para guru yang ikut serta dalam kegiatan
sosialisasi, menyatakan sudah siap melaksanakan Kurikulum 2013.
Dalam sosialisasi yang digelar Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan
di Banjarmasin, sebagai contoh, para guru mengaku sudah memahami
Kurikulum 2013 dan meminta agar buku-bukunya segera diberikan kepada
mereka. Para guru yang mengikuti sosialisasi yang dihelat Majelis
Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah di Malang, sebagai contoh
lainnya, menyatakan bahwa mereka bukan berada pada posisi mendukung atau
menolak, tetapi dalam posisi siap melaksanakan Kurikulum 2013.
Fase ini kiranya harus dicatat sebagai penanda tersendiri mengingat
adanya dua penanda yang mendahuluinya. Pertama, fase
penerimaan/penolakan; dan kedua, fase kesiapan penerapan Kurikulum 2013.
Label:
artikel pendidikan
Minggu, 03 Februari 2013
Mendikbud : Pendidikan Muhammadiyah Andalkan Kualitas
Sumber : www.muhammadiyah.or.id
|
Yogyakarta- Pendidikan seharusnya tidak hanya
mengandalkan berapa banyak jumlah sekolah yang ada, melainkan bagaimana
kualitas dari pendidikan tersebut. Hal inilah yang selalu menjadi tujuan
Muhammadiyah dalam upaya mencerdaskan bangsa Indonesia. Tidak hanya
memperbanyak jumlah sekolah Muhammadiyah tetapi juga menjaga kualitas
dari sekolah-sekolah tersebut.
Demikian disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)
Republik Indonesia Prof. Dr. Muhammad Nuh, DEA dalam acara Silaturrahmi
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan Majelis Disdaksmen PP
Muhammadiyah serta guru-guru sekolah Muhammadiyah se-Jawa Timur, DIY,
dan Jawa Tengah pada Rabu (30/1) di Kampus Terpadu Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Label:
artikel pendidikan
Sabtu, 26 Januari 2013
EMISisasi (Pendataan) Pendidikan Kemenag
Program EMIS yang dikelola oleh Kementerian Agama Republik Indonesia semestinya menyajikan aplikasi web yang mudah untuk diakses dan tidak sering mengalami masalah atau under construction, apabila tujuan yang diharapkan adalah Untuk percepatan akses data lembaga pendidikan yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Permasalahan yang terjadi sekarang adalah :
Label:
artikel pendidikan,
info-lain
Selasa, 18 Desember 2012
Filsafat Pendidikan Muhammadiyah
FILSAFAT
PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH:
Tinjauan
Historis dan Praksis
Mohamad
Ali dan Marpuji Ali
Dosen
Al Islam & Kemuhammadiyahan UMS
PENDAHULUAN
Prof. M. Yunan Yusuf,
Ketua Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Muhammadiyah Pusat
periode 2000-2005, acapkali melontarkan wacana "Robohnya Sekolah
Muhammadiyah" untuk menggambarkan betapa rendahnya rata-rata kualitas dan
mutu sekolah yang diselenggarakan Muhammadiyah. Kritisi atas pendidikan
Muhammadiyah juga muncul berkenaan dengan belum tercerminnya nilai-nilai Islam
dalam perilaku warga sekolah, belum berhasil menekan ongkos pendidikan sampai
ke batas termurah, belum sanggup menciptakan kultur islami yang representatif,
telah kehilangan identitasnya, dan lebih kooperatif dengan kelompok penekan. Berbagai
kritik tersebut tidak cukup dijawab hanya dengan perombakan kurikulum,
peningkatan gaji guru, pembangunan gedung sekolah ataupun pengucuran dana.
Untuk menyahuti dan menuntaskan problem-problem itu harus ada keberanian untuk
membongkar akar permasalahan yang sesungguhnya, yaitu karena belum tersedianya
orientasi filosofi pendidikan Muhammadiyah dan teori-teori pendidikan modern
dan islami. Karena adakalanya keterbelakangan sektor kependidikan suatu bangsa
atau suatu umat disebabkan tidak terutama oleh keterbelakangan infrastruktur
yang mendukungnya tetapi oleh perangkat konsep yang mendasarinya.
Label:
artikel pendidikan
Sabtu, 15 Desember 2012
Kecerdasan Majemuk
Kecerdasan merupakan salah satu faktor utama
yang menentukan sukses gagalnya peserta didik belajar di sekolah. Peserta didik
yang mempunyai taraf kecerdasan rendah atau di bawah normal sukar diharapkan
berprestasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan
tinggi seseorang secara otomatis akan sukses belajar di sekolah.
Berbagi ilmu dari Profesor Gardner
yang telah menemukan teori kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligences,
bahwa ada banyak kecerdasan yang dimiliki setiap orang. Teori ini juga
menekankan pentingnya “model” atau teladan yang sudah berhasil mengembangkan
salah satu kecerdasan hingga puncak.
Dalam buku konsep dan makna
pembelajaran (Sagala, 2005 : 84) memaparkan 8 kecerdasan yaitu kecerdasan
verbal/bahasa, kecerdasan logika/matematika, kecerdasan spasial/visual, kecerdasan
tubuh/kinestetik, kecerdasan musical/ritmik, kecerdasan interpersonal,
kecerdasan intrapersonal, kecerdasan spiritual.
Mari kita bahas satu per satu
kecerdasan di atas. Selain penjelasan bentuk kecerdasan, juga dikaitkan dengan
pelajaran yang diajarkan di sekolah serta tokoh atau profesi yang memiliki
kecerdasan tersebut.
Label:
artikel pendidikan
Langganan:
Postingan (Atom)













